Ngopi Bareng Ombudsman di Kaltara

“Pada umumnya orang bikin acara di hotel. Kita coba cari format yang baru, dengan output yang bagus. Itu harapan kita. Mudah-muidahan teman-teman di instansi yang lain bisa begitu”, ujar Ibram.

Bahwa setiap hasrat memenangkan peperangan butuh sumberdaya besar, itu pasti. Tetapi pada titik tertentu, itu lebih kepada soal strategi dan taktik. Pun demikian dalam upaya menyehatkan penyelenggaraan pelayanan publik, entah itu oleh penyelengara negara dan pemerintahan ataupun institusi yang bersinggungan dengan kepentingan publik. Praktek maladministasi telah lama mengakar dan tentu saja sangat merugikan. Membegal negara, menggerogoti kesehatan birokrasi pemerintahan, melumat kepentingan banyak orang bahkan sering tega mempersulit – juga nyaris merenggut – kebahagiaan para (calon) pengantin muda. Maka setiap upaya perlawanan terhadapnya adalah juga perang milik bersama, juga milik kamu (juga saya) yang jomblo. Di sini, Ombudsman hadir sebagai komando. Adakah upaya-upaya kreatif Ombudsman dalam keterbatasan sumber daya untuk memenangkan perang ini?

***

Keseringan nongki di Kedai Kopi Bean Laden, membuat saya hapal di luar kepala letak dan jenis hampir semua seat di kedai itu. Tutup mata sekalipun saya bisa tunjukkan seat model bundar, kotak dan panjang-panjang letaknya dimana. Saya juga hapal mati orang-orang yang hampir tiap malam nongol di kedai itu dan duduknya dimana. Satu di antara sekian orang itu adalah seorang lelaki berkumis tipis fanatik beranak satu yang pada waktu tertentu mengaku bujangan, tapi masih tampan. Sebut saja Om Kemper (krik-krik, bos, traktirannya bos!).

Malam ini (12/11) formasi semua seat di dalam berubah. Semua menghadap ke arah dimana 6 lukisan tokoh (Gus Dur, Najwa Shihab, Iwan Fals, Bob Sadino, Cak Nun, dan Pramoedya Ananta Toer) dipajang. Kedai sudah di-booking Ombudsman RI Perwakilan Kaltara untuk acara “Ngopi Bareng Ombudsman”. Sebagai informasi, sebenarnya Kedai Kopi Bean Laden cukup multifungsi. Selain tempat ngopi sembari ngobrol ringan hingga yang berat-berat, kedai ini memang sering digunakan untuk acara-acara di luar dunia perkopian. Entah itu kegiatan lomba pelajar, diskusi-diskusi organisasi dan komunitas, bahkan resepsi pernikahan. Selain didukung ruangan luas, kemultifungsian ini tak lepas dari salah satu tujuan pendirian kedai ini. Kalau kita seret-seret ke soal CSR, sepertinya kedai ini sudah cukup berhasil menunjukkan kepedulian sosial (masuk lagi ini barang, double traktir bos!).

Tapi jujur, saya tidak bermaksud melebih-lebihkan. Sering saya saksikan kedai ini dipakai untuk acara-acara seperti itu. Memang tak gratis (hello, hari gini masih ngarep gratisan?!), tapi soal sewa kedai ini tak pernah menetapkan harga sekian-sekian. Saya pun beberapa kali mengadakan kegiatan di tempat ini dan selalu gratis, kecuali kopi dan kawan-kawan. Acara malam ini saja, Ombudsman memilih kedai ini karena merasa memiliki chemistry yang sama: memberikan ruang bagi geliat kreatifitas kaum muda dan  membantu perekonomian masyarakat.

***

Acara “Ngopi Bareng Ombudsman” dimulai sekira pukul 20.00 waktu setempat. Acara ini merupakan salah satu dari serangkaian agenda sosialisasi Ombudsman untuk mengenalkan keberadaan dan fungsi lembaga ini ke masyarakat Kalimantan Utara (Kaltara). Setelah sebelumnya dilaksanakan di beberapa daerah Kaltara, kali ini giliran Kota Tarakan. Karena dikuotakan, Ombudsman mendaftarkan hanya 25 orang peserta yang semuanya dari perguruan tinggi di Kota Tarakan. Para peserta yang sebelumnya mendaftar tidak ditentukan harus dari kampus tertentu, tergantung siapa yang lebih dulu mendaftar dan memenuhi persyaratan (KTP dan motivasi mengikuti kegiatan).

1
Sambutan oleh Ibram Samiruddin, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Kaltara
│©Rusman Turinga│

Meski begitu, agenda rutin Ombudsman ini tetap dapat diikuti peserta yang tidak terdaftar (tidak melakukan pendaftaran hingga waktu yang ditentukan). Jamaah warung kopi yang pas lagi nongki pun sangat boleh menyimak. “Peserta memang cuma 25 orang karena kita tidak hanya lakukan sosialisasi di Tarakan. Tapi se-Kaltara, ada 5 daerah. Tahun ini termasuk Malinau dengan peserta dari ormas dan LSM”, jelas Ayu, staf Ombudsman Kaltara.

Tampaknya, acara ini memang didesain khusus untuk menyasar kaum muda. Maka semua yang hadir serba muda, atau paling tidak bersemangat muda. Mulai dari peserta, para pembicara (semuanya staf Ombudsman) – dengan materi-materi dasar antara lain tentang Ombudsman dan kewenangannya, mekanisme pelaporan, dan maladministrasi – hingga para pengisi hiburan (stand-up comedy dan live music). Acara ini juga dikemas sesantai mungkin tapi tidak kehilangkan substansinya.

“Konsep acaranya, pembicaranya dari yang masih muda-muda kita bagi dengan masing-masing materi. Ini untuk memberikan kesempatan kepada yang muda-muda untuk tampil. Sebenarnya semua materi ini saya yang ngisi. Tapi kita coba setting beda”, jelas Ibram Samiruddin, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Kaltara.

Melengkapi suasana nyantai acara ini, Ombudsman menghadirkan para komika Tarakan. Kehadiran kelompok stand-up komedi ini juga bagian dari upaya Ombudsman untuk mewadahi bakat-bakat anak muda daerah. Para komika ini tampil menghibur di setiap jedah ceramah para pembicara Ombudsman. Dari tiga komika yang tampil, ada satu orang (saya lupa menanyakan namanya) yang materinya sangat pas, yah meski aksinya lebih banyak tak lucu. Materinya tentang pelayanan instansi kependudukan dan pencatatan sipil dalam pembuatan e-KTP yang lambat keterlaluan berhasil mengocok perut para peserta.

5
Satu dari tiga komika yang berhasil mengocok perut para peserta │©Rusman Turinga│

Soal e-KTP ini memang tengah menjadi keluhan manusia di seantero negeri ini semenjak kelakuan ‘menggemaskan’ para pejabat di gedung Senayan sana kambuh lagi. Saya sendiri termasuk korban. Seingat saya, sejak menyerahkan semua berkas yang diwajibkan untuk mengurus e-KTP pada bulan Agustus 2016, baru Mei 2017 saya diberikan sepotong benda pipih yang disepakati sebagai kartu identitas seumur hidup itu. Menggemaskan, kan?

Sepertinya, gaya Presiden Jokowi yang (tampak) menggemari kesederhanaan namun tetap elegan termasuk soal pilihan tempat telah menulari bapak-bapak pimpinan instansi pemerintahan. Kegiatan-kegiatan instansi pemerintahan di tempat-tempat yang biasa-biasa belakangan ini menjadi tren baru. Kegiatan-kegiatan yang selama ini kerap dilakukan di tempat-tempat luar biasa terasa menjadi terlalu mainstream.

Bagi Ibram sendiri, alasan mengapa memilih kedai kopi sederhana. Ombudsman Kaltara ingin mencoba sesuatu yang berbeda dengan format yang baru, dan output yang bagus. “Kita ingin coba sesuatu yang berbeda, yang muda-muda ini kan beda caranya. Filosofinya begini, kalau kita di gedung terlalu formal. Sasaran kita ini beda. Pada umumnya orang bikin acara di hotel. Kita coba cari format yang baru, dengan output yang bagus. Itu harapan kita. Mudah-mudahan teman-teman di instansi yang lain bisa begitu”, ujar Ibram.

2
Salah satu peserta yang bertanya soal kerja-kerja Ombudsman di Kaltara dalam sesi tanya-jawab
│©Rusman Turinga│

Selain itu, Ibram juga menjelaskan bahwa suasana kegiatan ini memang dibuat tidak tegang, tenang, dan bisa nyantai karena targetnya anak-anak muda (mahasiswa) sebagai ujung tombak dalam upaya-upaya mewujudkan pelayanan publik yang sehat. Mereka inilah yang diharapakan dapat menyampaikan pesan-pesan kegiatan ini berkaitan dengan praktek maladministrasi dalam pelayanan publik. Ibram juga berharap, dengan mengadakan acara di kedai kopi, paling tidak dapat berkontribusi dalam membantu perekonomian masyarakat.

IMG_0327
Foto bareng Ombudsman Kaltara dan peserta “Ngopi Bareng Ombudsman”
│©Rusman Turinga│

***

Acara ini memang sederhana dan biasa saja. Bahkan di satu dua item acara tampak tak terencana dengan cukup baik. Tapi bagi saya, ada pesan penting yang efektif tersampaikan di sini. Pertama, pekerjaan super-serius sekalipun seperti pemberantasan praktek maladministrasi tetaplah perlu kemasan yang nyantai untuk suatu simpati. Kedua, peran-peran kaum muda selamanya menjadi tumpuan harapan termasuk dalam aksi bersama mewujudkan pelayanan publik yang sehat.

Seperti dikatakan Ibram bahwa dengan tidak adanya maladmisnitrasi, masyarakat dapat hidup sejahtera. Masyarakat tidak dibuat membuang-buang waktu oleh pelayanan berbelit-belit. Tidak ada lagi pintu masuknya pungli yang merugikan masyarakat. Para pelayan publik menjalankan tugas dengan sebaik-baiknya karena bekerja profesional sesuai tugas pokok dan fungsi masing-masing.

Good job Ombudsman RI di Utara Pulau Kalimantan! Jika di kedai kopi sekalipun Ombudsman memerangi praktek maladministrasi, maka percayalah! Di gelas-gelas kopi jamaah kedai kopi juga ada resah mendalam. Resah atas ragam patologi birokrasi yang telah lama mengerdilkan negara ini. Kedai kopi adalah tempat yang dipilih para penikmat kopi untuk mengobati resah, memulihkan energi lalu menemukan alasan untuk melawan.

 

Rusman Turinga

 

Tulisan ini pernah dimuat di laman minumkopi.com, 17 November 2017

Ngopi Bareng Ombudsman RI di Kalimantan Utara

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s