Kopi Enak, Tak Selalu Karena Kopinya

Tiga kali nongkrong di café itu akan terasa begitu membosankan andai saja tak ada gadis berparas ‘nendang’ itu, yang selalu setia menemani (di sudut berbeda). Saya selalu berkunjung lebih awal, sekira pukul 08.30. Berkunjung sepagi itu, duduk sendirian, kadang berjam-jam memang bukan masalah, tapi rada “lain-lain”. Apatah lagi tujuan saya adalah menunggu teman yang juga guru bagi saya, hingga selesai mengajar. Bukan nongkrong khusyuk (takluk pada hasrat konsumtif maksimal pada apa saja di daftar menu). Yah, ngopi sudah pasti meski rasa sajian kopinya menjengkelkan.

Andai tak ada dia, mungkin saja saya sudah stress, bukan karena kelamaan menunggu, tapi karena kopinya. Dia dengan tutur dan tatap yang langka sembari sesekali mengurai senyum menggetarkan adalah perpaduan sempurna yang kemudian hadir sebagai rasa di gelas kopi. Yah, dia salah satu pelayan di Kafe Unik. Gadis bertubuh tinggi semampai. Singkatnya, dia memang memikat. Sesuatu yang karenanya selalu ada alasan untuk curi pandang. Sayang, saya lupa menanyakan namanya.

***

Berada di sebelah kiri pintu masuk kompleks Universitas Kaltara (Unikal) membuat Kafe Unik Market mudah dijangkau, selain sebagai satu-satunya “kantin depan” dari hanya dua kantin di Unikal. Para dosen, mahasiswa, dan birokrat kampus banyak memilih bercengkerama di sini. Rektor pun tak jarang menghabiskan jam istrahat di kafe ini, sendirian atau sembari ngobrol dengan para mahasiswa. Di sebelah kiri kafe ada perpustakaan kampus. Sebut saja posisi kafe ini strategis dalam hitung-hitungan peluang laba.

Ruangan cukup mewah sebagai bekas laboratorium. Tertata rapi dan bersih meski terasa ‘berbeda’ karena keberadaan aneka makanan dan minuman kemasan yang di-display ala minimarket. Tapi yang paling penting bagi saya adalah, di dalam ruangan pun kafe tidak ada larangan merokok (juga ngeretek). Dan sebagai kretekus toleran, saya lebih lega sebab kafe itu juga menyediakan ruangan terbuka (halaman depan kafe) dengan desain dan formasi yang juga apik untuk mereka yang tidak (belum) ngeretek, atau juga untuk mereka yang niat bangat curi-curi pandang pada bidadari-bidadari Unikal yang pas melintas.

IMG-20161216-WA0003
Ruang yang juga toleran pada kretekus, Unik Café Market, Unikal | ©Rusman Turinga |

Mendengar kata unik pada Unik Café Market, tentu saja saya berpikir “pasti ada sesuatu yang unik di sana”. Setidaknya rasa kopinya atau mungkin yang lain terkait dunia perkopian, atau mungkin makanannya. Sayang, selain “kopi dengan rasa menjengkelkan tapi jadi enak karena gadis itu”, saya gagal menemukan sesuatu yang enak. Minuman lain dan makanan? Kita bisa dengan mudah menemukan rasa dan aroma yang cenderung identik di tempat lain. Free Wifi? Ada jika kita adalah warga Unikal. Itupun dengan tingkat ke-ngadat-an yang kejam.

Tapi ada hal lain yang membuat saya betah berjam-jam di kafe itu (lupakan sejenak tentang gadis itu) 3 hari berturut-turut. Saya menemukan keramahan, persahabatan dan kejujuran yang ditunjukkan dengan baik oleh para pegawai kafe.

“Koreknya ketinggalan, mas”, ucap seorang pegawai lain di suatu siang sembari mengulurkan benda itu padaku. Saya menemukan sikap yang sama saat menanyakan charger ponsel Xiaomi saya yang hilang. Bedanya, saya tidak menemukan charger itu. Diinggat-ingat, sepertinya memang ketingalan di tempat lain yang saya kunjungi selama beberapa hari di Ibu Kota Terunik ini (Bulungan, sebuah Kabupaten yang menjadi Ibu Kota Provinsi Kalimantan Utara).

Tentu saja, diskusi-diskusi ringan dengan teman-teman mahasiswa adalah alasan istimewah untuk berlama-lama di kafe itu. Beberapa di antara mereka dari FISIP, yang juga aktivis di organisasi ektra kampus. Mereka punya semangat berdiskusi yang baik untuk beberapa topik, termasuk dalam keluhan-keluhan mereka tentang kurang terawatnya jejak-jejak fisik peradaban masa silam yang kini berada di sebuah bangunan museum yang minim perhatian.

Saya belajar banyak hal dari mereka. Paling spesial, tentang bagaimana mengerti kebudayaan tidak melulu lewat ceramah di kelas yang dikemas sebagai Mata Kuliah Sistem Sosial Budaya Indonesia (SSBI). tetapi lewat cara-cara kreatif dan ceria. Dengan begini, kecewa karena tak menjumpai kopi unik terasa pupus nyaris tak berbekas.

***

Pagi itu, Rabu (7/12) tepat di depan Kafe Unik Market, para mahasiswa FISIP Unikal peserta mata kuliah SSBI menggelar Pentas Seni. Suatu kegiatan yang menjadi rutinitas tahunan mahasiswa FISIP Unikal sejak 2010 silam. Di bawah tenda sekira 1 lapangan sepak takraw, tampak beberapa dosen dan undangan duduk manis, hendak menyaksikan pertunjukkan. Penontonnya tidak seberapa. Item kegiatan utamanya pun hanya berupa Orasi Budaya, Paduan Suara, Stand-Up Budaya dan beberapa jenis tarian khas Kalimantan (Utara), seperti Tari Biduk Bebandung, Tari Intamu, Tari Perang dan Tari Gerak Sama.

Tampaknya kegiatan itu memang tidak diadakan untuk sebuah keramaian. Atau mungkin saja untuk keramaian. Hanya saja bukan yang gaduh dan bising, tetapi yang diam yang boleh jadi mampu memecah gelap karena ketidakhadiran kita sekian lama di lorong-lorong terpanjang kebudayaan sekaligus yang paling menentukan makna kemanusiaan kita sebagai bangsa.

Bagi mahasiswa FISIP, kegiatan ini adalah media untuk menyampaikan pesan-pesan moral. Pesan yang mungkin berguna dalam upaya memberikan tempat yang layak bagi kebudayaan, untuk kemudian merekatkan kembali jalinan kebangsaan. Bukan sekedar seremonial untuk menggugurkan kewajiban mata kuliah SSBI.

“Pemuda ini aset negara yang akan meneruskan apa yang telah diwarisi dari nenek moyang kita. Jadi pesan moral kegiatan ini adalah bagaimana mengerti makna kebudayaan memelihara nilai-nilai kebudayaan, dan sebagai start awal kita memelihara dan mengembangkan nilai-nilai kebudayaan”, jelas Sahrul, Ketua Panitia.

“Melalui kegiatan ini, teman-teman dari luar Kaltara bisa punya gambaran tentang seperti apa wajah kebudayaan Kaltara, mungkin juga bisa berpartisipasi untuk melestarikan kebudayaan”, kata Agus, Pengisi Acara Orasi Budaya.

Sebagai wujud kepedulian terhadap apa yang disepakati sebagai kebudayaan, kegiatan sejenis ini perlu selalu – untuk tidak menyebutnya wajib – ada. Mungkin ini tampak biasa, sederhana, dan kurang persiapan yang membuatnya seperti tak lebih dari tontonan gratis di tengah kehausan hiburan jenis “bukan produk balok-balok digital”. Tetapi menyelaminya akan menjejakkan hasil perenungan menggugat bahwa ada yang salah dalam cara kita memahami dan memperlakukan kebudayaan. Lagi-lagi, akan selalu sampai di titik ini.

Tentu saja, memahami kebudayaan hanya sebagai tari-tarian, pernak-pernik dan pelbagai perwujudan fisik lainnya adalah distorsi yang keterlaluan. Nalar, naluri dan emosi sebagai daya-daya dari budhi yang kaya dan terus-menerus berproses, melahirkan beragam hal yang tentu saja tidak selalu ditemukan wujud fisiknya. Sederhananya, kebudayaan tidak melulu tentang hal-hal yang memanjakan indra. Kebudayaan jauh lebih dari itu. Mungkin, bagian ini dapat menjadi koreksi tidak hanya dalam acara-acara pentas kebudayaan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih dari itu, seperti dikhawatirkan Karlina Supelli dalam pidato kebudayaannya tempo hari, Kebudayaan dan Kegagapan Kita, bahwa diskusi-diskusi kebudayaan yang cenderung membatasi diri pada nilai-nilai luhur atau sebatas warisan akan gagap dan nyaris lumpuh menghadapi brutalitas fakta sosial, ekonomi dan politik sebagai realitas objektif sehari-hari.

Tak perlu refleksi yang ribet untuk menemukan kenyataan betapa kerja-kerja kebudayaan kita masih membentangkan persoalan yang serius dan kompleks. Berada di antara tarikan dua kekuatan tak imbang (kebebasan berekspresi dan kepentingan ekonomi) membuat kebudayaan cenderung diperlakukan hanya sebagai destinasi wisata untuk meningkatkan pendapatan daerah. Kegagalan menghadirkan kebudayaan sebagai basis nilai bagi olah pikir, rasa dan laku memuluskan jalan bagi teknologi digital untuk merebut posisi sebagai “budaya baru” yang mengerdilkan aktualitas potensi kaum muda. Rapuhnya pemaknaan kebudayaan sebagai keseluruhan sistem yang melandasi identitas kebangsaan membuat kita seperti dilanda krisis jati diri yang akut. Masih banyak lagi.

Mungkin, di sinilah kegelisahan Karlina Supelli pada tiga tahun lalu kian menarik untuk kita selami kembali. Bahwa kebudayaan adalah peta jerih payah manusia yang tidak pernah selesai. Sebagian selalu saja berisi kawasan yang tidak terjelajahi, sebagian lainnya tinggal sebagai kawasan gelap yang menjadi terang sedikit demi sedikit hanya kala perjalanan membawa kita sampai ke sana, sebagian lainnya tidak pernah terealisasi sama sekali, dan sebagian lagi terbuka sebagai kemungkinan-kemungkinan baru.

***

Membincang gelombang realitas yang tak seharusnya yang tampak terpotong-potong tetapi begitu telanjang sebagai kebenaran, bersama teman-teman mahasiswa membuat “Kopi Enak Tak Selalu Karena Kopinya” kembali menemukan bentuknya kali ini. Semoga para master dunia perkopian gak ngamuk atas hipotesis lancang ini.

Nyaris tak terasa mentari telah menuruni tangga-tangga langit di ufuk barat – maksudnya, bukan menurut teori Flat Earth. Semoga nongki sembari diskusi nekat seperti ini terus dipelihara dan direproduksi oleh teman-teman mahasiswa. Entah di Kafe Unik, “kantin belakang” atau tempat nongki mana saja, hingga Unikal menjadi ikon Universitas Swasta Ternama di Indonesia.

***

Tarakan, 7 Desember 2016

Rusman Turinga

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s